Sabtu, 21 Agustus 2010

PARI KAMPUNG



Minggu, tanggal 22 Agustus 2010 besuk warga dusun karah akan melaksanakan buka lumbung padi. lumbung padi di dusun karah merupakan tradisi turun temurun yang masih tetap terjaga kelestariannya sementara di dusun2 lain telah hilang.Menurut orang2 tua, pada awalnya lumbung padi dirintis oleh beberapa tokoh warga dusun dengan menyisihkan hasil panen untuk disimpan sebagai modal awal dan nantinya pada musim paceklik akan dikeluarkan dan dibagikan kepada anggota yang sebelumnya ikut memberikan modal awal sebagai pinjaman. setelah satu tahun atau pada masa panen raya mereka yang menerima pinjaman harus mengembalikan pinjaman dengan bunga sebesar 10 %. yang mana dari bunga tersebut terus dikembangkan dengan memberikan pinjaman kepada warga lain yang belum jadi anggota Lumbung padi. begitu seterusnya hingga berkembang yang pada awalnya hanya kisaran beberap kwintal sampai sekarang tahun 2010 ini aset lumbung padi di dusun karah sudah mencapai sekitar 16 ton.yang awalnya anggota cuma 15 orang sekarang menjadi 110 orang (KK).


data pengembalian anggota pari kampung pada tutup lumbung tahun 2010
BAYAR JUAL

NO NAMA BAYAR KURANG JUMLAH NAMA KG UANG
1 P YADI 370,000 38000 408,000 1 RIYADI 24 80,000
2 P LURAH 2,115,000 0 2,115,000 2 FAJAR 24 79,200
3 MATAMIN 51,000 3 AINUL 16 52,800
4 KARIYAJI 81,600 4 WAKIT 64 211,200
5 JUARI 177,000 5 SOKEH 42 138,600
6 SUKADI 490,000 6 RUHIN 23 75,900
7 GAPUR 30,000 7 DULAMAT 13 42,900
8 WITONO 17,000 8 WAGIMIN 25 82,500
9 SUPARMAN 534,000 9 SAMSURI 7 23,100
10 SAODAH 23,000 10 WARI 18 59,400
11 SUROTO 2,536,000 11 PAKEH 20 69,300
12 JUPRI 41,000 12 JAMAL 1 0
13 MUKIT 17,000 13 JAMAL 32 105,600
14 NADI 20,500 14 SUHA 26 85,000
15 LADI 496,400 15 RIYADI 6 19,100
16 DURAKIM 204,000 16 TARIP 15 67,320
17 TUMINI 3,000 17 ARBAIN 15 67,320
18 NYONO 408,000 18 SUUD 19 62,700
19 GUNAIN 34,000 19 UDIN 20 66,000
20 RAKMAT 400,000 188000 588,000 20 TAKIM 9 29,700
21 KAIB 36,000 21 TIYAMAH 1 3,300
22 ROMLI 27,000 22 P. SLAMET 11 36,400
23 KARNI 153,000 23 SARONI 15 49,500
24 RAPWI 14,000 24 SUTRIS 27 89,100
25 YANTO 300,000 98000 398,000 25 PAINI 70 230,000
26 SANURI 122,000 26 SAMIAN 39 128,700
27 UNTUNG 23,800 27 TAYIB 3 10,000
28 RUHIN 23,800 28 DURAHMAN 16 53,800
29 KARTO RAHARJO 428000 0 29 TOPAH 47 155,000
30 30 RUHIN 12 40,000
31 31 TIYAYAH 3 10,000
32 32 PAWI 8 26,400
33 33 DULMANAP 25 82,500
34 34 P MUDIN 74 244,200
35 35 MAHMUD 24 79,200
36 36 TALKAH 3 10,000
37 37 DAKYAH 8 26,400
38 38 PATOLAH 14 46,200
39 39 JAELANI 20 66,000
40 40 SOLIHIN 18 59,000
41 41 SAWI 5 16,500
42 42
43 43
UANG MASUK 9,176,100 324000 UANG KELUAR 2,879,840

9,176,100 -2,879,840 SISA DUIT 6,296,260

ROKOK 42,000
KONSUMSI 50,000
KULI 2X2 ORANG 100,000
PANITIA 200,000
BULPEN 2,000

394,000

UANG MASUK 6,296,260
UANG KELUAR -394,000
SISA UANG GABAH 5,902,260


Demikian semoga tradisi lumbung padi di dusun karah ini bisa lestari karena manfaatnya sudah banyak dirasakan oleh seluruh warga khususnya yang menjadi anggota pari kampung.

Senin, 09 Agustus 2010

SEJARAH SUNAN BONANG

SUNAN BONANG

Sunan Bonang itu namanya adalah Raden Makdum Ibrohim. Beliau adalah putra Raden Rahmat Sunan Ampel dengan istri peertama yaitu Dewi Candrawati, dalam sumber lain disebut sebagai Nyai Ageng Manila. Dewi Candrawati adalah putrid Prabu Brawijaya Kertabumi. Dengan demikian Sunan Ampel dan Sunan Bonang itu masih ada hubungan dengan Keluarga Besar Kerajaan Majapahit.
Seperti telah disebutkan di halaman depan, Raden Makdum Ibrahim sesudah selesai belajar pada Sunan Ampel di Surabaya maka bersama Raden Paku Beliau meneruskan pelajarannya ke Samudra Pasai. Disana belaiau berguru pada Syeh Maulana Ishak (Paman Sunan Ampel) dan beberapa ulama besar ahli tasawwuf berasal dari Baghdad dan Iran. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam atau Ilmu Tauhid
Sekembalinya Raden Makdum Ibrahim ke Tanah Jawa maka beliau berda’wah di daerah Tuban. Caranya berda’wah cukup unik dan bijaksana. Beliau dapat mengambil hati rakyat agar mau dating ke Masjid. Belaiau menciptakan gending dan tembang yang disukai rakyat. Dan beliau sangat ahli dalam membunyikan permainan gending yang disebut Bonang, itu sebabnya rakyat Tuban kemudian mengenalnya sebagai Sunan Bonang.
Bila beliau membunyikan Bonang rakyat yang mendengar seperti terkena pesona gaib, tanpa sadar mereka melangkah kea rah Masjid. Mereka ingin melihat dan mendengar suara tembang dan suara Bonang dari dekat. Sunan Bonang yang cerdik sudah memperhitungkan hal itu, maka beliau sudah menyiapkan kolam di depan Masjid. Siapa yang mau masuk Masjid harus membasuh kakinya.
Bila mereka sudah berkumpul di dalam Masjid maka Sunan Bonang mengajari mereka tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam. Pulangnya mereka hafalkan di rumah masing-masing. Sanak keluarga mereka turut menyanyikan tembang-tembang itu kat\rena tertarik akan keindahan dan kemerduan lagunya.
Demikianlah cara Sunan Vonang berda’wah, sedikit demi sedikit merebut simpati rakyat baru menanamkan pengertian yang sesunggun\hnya tentang Islam. Dengan cara itu maka Islam segera terseba luas dikalangan penduduk Tuban dan sekitanrnya, seperti di daerah Bawean, Jepara, Madura dan lain-lainnya, Sunan Bonang juga mendirikan PEsantren, murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru.
Namanya makin hari makin terkenal sehingga ada seorang Brahmana Sakri yang merasa iri. Brahmana itu kemudian berlayar menuju Tuban, Namin belim sampai di Pantai Tuban perahunya dihantam badar sehingga dia hanyut terbawa arus air laut, kitab-kitabnya yang berisi ilmu gaib, yang sedianya hendak dihadikan acuanuntuk mendebat SunanBonang ikut tenggelam kedalam laut. Brahmana itu sendiri pingsan setelah sadar, dia mendapat dirinya berada ditepi pantai.
Brahmana tersebut celingukan kesana kemari, tiba-tiba dia melihat seorang lelaki tua berjubah putih berjalan di tepi pantai. Setelah dekat, Brahmana itu bertanya kepada lelaki berjubah putih, “ Ssaya hendak mencari Sinan Bonang, “ jawab sang brahmana. “ ada keperluan apa Tuan mencarinya?”
“ Saya akan menanyangnya adu kesaktian, adu ilmu gaib, “ kata sang Brahmana.” Tapi sayang kitab-kitab saya yang berisi catatab ilmu gaib telah tenggelam ke dasar samudra”.
Lelaki yang berjubah putih tersebut mencabut tongkatnya. Dari dalam lubang bekas tancapan tongkat itu keluar air jernih dengan derasnya, sang brahmana kager, karena air tersebut membawa kitab-kitab yang tenggelam di dasar laut. “Bukankah itu kitab yang kau bawa dari rumahmu?” Tanya lelaki berjubah putih. “ Beb…..benar. itu adalah kitabn-kitab saya……” ujar sang Brahmana.
Brahmana itu segera berpikir betapa tinggi ilmu lelaki berjubah putih itu. Dapat menyedot kitab-kitab yang tenggelam di dasar laut hanya dengan tongkat butunya. Seratus orang Brahmana semacam dia belum tentu dapat melakukan hal itu. Akhirnya Brahmana itu sadar, siapa lagi yang mempunyai kesaktian sedemikian tinggi selain Sunan Bonang sendiri. Maka serta merta dai berjongkok, tunduk takluk dihadapan Sunan Bonang. Dan akhirnya menjadi murid Sunan Bonang.
Tempat air yang memancar itu hingga sekarang masih ada. Dan dinamakan Sumur Srumbung. Namun karena pantai Tuban selama ratusan tahun dikikis oleh air laur maka Sumur Srumbung iru sekarang berada agak ketengah laut. Walaupun letaknya di tengah laut Sumur itu airnya tetap jernih dan rasanya segar. Inilah keajaiban yang diciptakan wali.
Sunan Bonang kalau berda’wah sering keliling, hingga wafanya beliau sedang berda’wah di Pulau Bawean. Oleh murid-muridnya yang berada di Tuban jenazah Sunan Bonang diminta untuk dimakamkan di Tuban tapi oleh murid-muridnya yang berada di Bawean tidak boleh, mereka menghendaki jenazah Sunan Bonang dikuburkan di Pulau Bawean.
Malam harinya, murid-murid Sunan Bonang yang berada di Tuban bergerak di Pulau Bawean. Penjaga jenazah Sunan Bonang disirep dengan ilmu gaib. Lalu jenazah Sunan Bonang dilarikan dengan perahu ke Tuban dimakamkan di sebelah Masjid Agung Tuban. Anehnya, dipulau Bawean jenazah Sunan Bonang itu masih ada. Hanya kain kafannya tinggal satu. Sedang jenazah Sunan Bonang yang ada di Tuban juga tinggal satu. Dengan demikian kuburan Sunan Bonang ada dua tempat.

1. Dibarat Masjid Sunan Bonang Tuban
2. Dikampung Tegal Gubuk ( Barat Tambak Bawean)

Demikian selintas riwayat Sunan Bonang, salah seorang anggota Wali Songo. Semoga Allah menaikkan derajatnya digolongan para Aulia Muqorrobin.